Mengawal Realisasi Investasi di Industri Garam

780 views
baner murah berpotensi

Sahabat Potensi. Kunjungan kerja Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong ke Kupang, Nusa Tenggara Timur dilakukan terutama untuk mengawal realisasi investasi di perusahaan-perusahaan industri garam. Langkah tersebut diharapkan dapat berkontribusi positif pada upaya pemerintah untuk mencapai swasembada garam.

Industri Garam

Industri Garam

Kepala BKPM mengunjungi sentra pegaraman PT Garam (persero) di desa Bipolo, Kupang, NTT dengan luasan lahan 400 hektar dan rencana investasi Rp 16,9 miliar dan telah terealisasi Rp 3,8 miliar (22%). Kepala BKPM juga melakukan pertemuan dengan PT Shang Che Garamindo yang bergerak di bidang industri kimia dasar anargonik khlor dan alkali dengan nilai rencana investasi US$ 6,01 juta dan telah terealisasikan US$ 6,04 juta.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong menyampaikan bahwa investasi kedua perusahaan industri garam tersebut diharapkan akan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi impor garam industri dan menciptakan swasembada garam. “Industri garam di NTT harus berhasil, sehingga dapat mendukung target swasembada garam pemerintah,” ujarnya dalam keterangan resmi kepada media.

Menurut Tom, kapasitas produksi dari kedua perusahaan tersebut diharapkan akan membantu menambah produksi garam nasional sebesar 240 ribu ton. “Dari hasil diskusi dengan perusahaan-perusahaan garam tersebut, salah satu yang mereka harapkan dukungan dari pemerintah adalah terkait pembebasan bea masuk atas importase mesin, terutama yang belum bisa diproduksi dalam negeri serta alat-alat berat untuk memproses garam,” jelasnya.

Potensi Industri Garam

Dalam kunjungan tersebut, Dirut PT Garam Achmad Budiono juga menyampaikan bahwa potensi garam di NTT sangat besar. “Dari wilayah pesisir pantai saja diperkirakan terdapat 8.000 hektar yang bisa dijadikan sebagai lokasi industri garam. PT Garam sendiri saat ini sedang menggarap 50 hektar dari rencana 400 hektar,” kata Achmad.

Dia menambahkan bahwa hasil dari garam bila dibandingkan dengan padi jauh lebih besar. Untuk produksi garam 1 hektar, akan menghasilkan 100, dengan harga Rp 500 ribu per ton, maka petani garam diperkirakan akan mendapatkan Rp 500 juta. “Sementara apabila mereka menanam padi 1 hektar hanya akan memproduksi 1,5 ton dengan harga per tonnya Rp 150 juta,” lanjutnya.

Potensi Keuntungan

Potensi keuntungan di industri garam yang besar tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan investasi di NTT. Berdasarkan data BKPM selama 2 tahun terakhir (2015-2016), dari target investasi nasional tahun 2015 sebesar Rp 519,5 triliun telah tercapai realisasi investasi sebesar Rp 545,4 triliun, yang terdiri dari realisasi PMA sebesar Rp 365,9 triliun (17.738 proyek) dan realisasi PMDN sebesar Rp 179,5 triliun (5.100 proyek).

Target investasi Provinsi NTT tahun 2015 adalah sebesar Rp 1,8 triliun (0,3% dari porsi target investasi nasional yang sebesar Rp 519,5 triliun), dan dari target tersebut di tahun 2015 telah tercapai realisasi sebesar Rp 2,2 triliun, yang terdiri dari realisasi PMA sebesar Rp 873,1 miliar (104 proyek) dan realisasi PMDN sebesar Rp 1,3 triliun (9 proyek). Realisasi tahun 2015 Provinsi NTT berdasarkan sektor dan jumlah proyek yang banyak diminati untuk PMA (5 besar) adalah hotel dan restoran; pertambangan; jasa lainnya; industri makanan; listrik, gas dan air; dan perikanan. Sedangkan untuk PMDN (5 besar) adalah listrik, gas dan air; tanaman pangan dan perkebunan; industri makanan; industri mineral non logam; serta konstruksi.

Baca juga Komoditas Rumput Laut

baner murah berpotensi
Penulis: 
author
Orang yang sederhana, ramah dan pantang menyerah. Berpengalaman kerja sebagai wartawan dan penulis sejak tahun 1999. Anda bisa menghubungi saya melalui halaman kontak website ini.

Posting Terkait

baner murah berpotensi