Balitbang KP Teliti Jejak Karbon

696 views
baner murah berpotensi

Sahabat Potensi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan (Puslitbangkan), dimana salah satu tugas pokoknya melakukan penelitian bidang perikanan, untuk menunjang penyusunan kebijakan kelautan dan perikanan, pada Tahun 2015 telah melakukan penelitian jejak karbon (carbon footprint) perikanan Tuna Cakalang Tongkol (TCT).

Di area konvensi Western Central Pacific Fisheries Communities (WCPFC), yang dilanjutkan dengan penelitian sejenis di Samudera Hindia, pada tahun 2016, khususnya pada armada rawai tuna yang bersandar di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap.

Hasil penelitannya, diinformasikan Suryanto, seorang Peneliti di Puslitbangkan-Balitbang KP. kepada Potensi Indonesia. Informasinya sebagai berikut ;

Telah dihasilkan data dasar jejak karbon TCT longline, di Samudera Hindia. Pada kurun waktu 2011-2015, terjadi perubahan tren peningkatan jumlah trip, dan penurunan lama hari layar, dengan tren tenaga mesin induk yang konstan. Hal tersebut berdampak pada peningkatan terhadap Catch per Unit Effort (CPUE) ton/trip, penurunan Fuel Used Intensity (FUI) ton BBM/ton tangkapan, dan peningkatan energi yang digunakan (Horse Power-HP x Lama hari layar), yang equivalent dengan emisi CO2.

Teliti Jejak Karbon

Teliti Jejak Karbon

Jejak Karbon

Karena peningkatan tren CPUE jauh lebih kecil, dibandingkan tren peningkatan pemanfaatan energi (HP x hari layar), maka tren jejak karbon (ton CO2e/ton tangkapan) meningkat. Peningkatan tren jejak karbon semakin meningkat, karena pengaruh fluktuasi porsi target tangkapan, terhadap total tangkapan yang cukup signifikan. Secara ekonomi, hal tersebut juga berpengaruh terhadap porsi belanja bahan bakar, terhadap hasil penjualan hasil tangkapan.

Usaha termudah, tanpa memerlukan investasi untuk memperbaiki kondisi tersebut, dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) Pendekatan operasional, dilakukan dengan melakukan operasi yang terencana, melalui pengaturan waktu, dan kecepatan kapal, serta penggunaan nakhoda yang berpengalaman; dan (2) Pendekatan perawatan, dapat dilakukan dengan perawatan terjadwal, mesin induk dan mesin bantu, serta pembersihan lambung kapal.

Dari sisi pengelolaan pelabuhan perikanan, studi menunjukan peningkatan frekuensi keberangkatan kapal, dengan hari dilaut yang singkat, akan meningkatkan CPUE dan FUI. Hal tersebut akan lebih bermanfaat dalam penurunan jejak karbon, jika tenaga mesin kapal yang beroperasi. Namun, karena dominasi besar tenaga mesin induk kapal yang beroperasi relatif konstan, hal tersebut mengakibatkan tren jejak karbon, dan porsi belanja BBM terhadap hasil penjualan hasil tangkapan meningkat.

Komitmen Menurunkan Emisi

Pemerintah Indonesia, pada pertemuan G-20 di Pittsburgh Amerika, tahun 2009 telah berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26%, dari baseline business as usual (BAU) pada tahun 2020. Komitmen tersebut ditindaklanjuti, dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No.61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN), Penurunanan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Pada Conferrence of the Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change 21 di Paris tahun 2015, komitmen tersebut ditingkatkan menjadi penurunan emisi sebesar 29% pada tahun 2030.

Berdasarkan review RAN GRK, yang dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), pada tahun yang sama, disepakati bahwa untuk mencapai komitmen tersebut, diharapkan sektor transportasi laut dapat menurunkan intensitas penggunaan energi sebesar 1% sebelum tahun 2030.

Usaha perikanan tangkap yang tidak lepas dari penggunaan armada kapal ikan diharapkan dapat berkontribusi dalam penurunan intensitas penggunaan energi. Namun kenyataan menunjukan bahwa data intensitas penggunaan bahan bakar pada armada perikanan belum tersedia.

Sementara Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 107 Tahun 2015 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Tuna, Cakalang dan Tongkol (TCT) menyebutkan bahwa perikanan tersebut merupakan tulang punggung industri perikanan tangkap yang berpeluang untuk bersaing di pasar dunia.

KepMen No 47 tahun 2016

Menurut KepMen nomor 47 tahun 2016, status pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar (neritik), di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP-NRI) 572 Samudera Hindia, sebelah barat Sumatera sudah over exploited, dimana upaya penangkapanmya harus dikurangi.

Sementara di WPP-NRI 573 Samudera Hindia, sebelah selatan Jawa dalam tahap fully exploited, dimana upaya penangkapannya masih bisa dipertahankan, disertai dengan monitoring secara ketat. Termasuk ikan pelagis besar neritik, antara lain ; ikan cakalang, tongkol, tenggiri, lemadang dan marlin.

Data Statistik Perikanan Tangkap 2014 (DJPT, 2015) menyebutkan, bahwa produksi TCT di Samudera Hindia sebesar 254.127 ton,  terdiri dari ikan tuna 32,4%, cakalang 18,6% dan tongkol 20,7%. Produksi TCT tersebut 1,4% diantaranya didaratkan di Cilacap.

Armada penangkapan TCT yang berpangkalan di Cilacap, dan Benoa di dominasi oleh tuna longline, dengan target spesies kelompok ikan madidihang (yellowfin tuna), mata besar (bigeye), sirip biru selatan (southern bluefin tuna-SBT), dan albakora. Armada yang berpangkalan di PPS Nizam Zachman Muarabaru didominasi oleh Pukat cincin dengan target spesies ikan cakalang dan tongkol, termasuk tuna berukuran kurang dari 60cm.

Pada perikanan rawai tuna, dan jaring insang tuna yang beroperasi di perairan Samudera Hindia, tertangkapnya jenis ikan selain ikan target tidak dapat dihindari. Hal ini terkait dengan relasi ekologis (ERS), yang saling terkait dengan jenis ikan yang bukan tujuan penangkapan, di dalam ekosistem yang sama.

Jenis Ikan Bertulang Rawan

Beberapa kelompok jenis ikan bertulang rawan (elasmobranchii), yang rawan mengalami kepunahan (endanger species), dan sering tertangkap oleh alat tangkap rawai, dan jaring insang tuna, adalah kelompok hiu dan kelompok pari. Persentase rata-rata dari komposisi hasil tangkapan tuna longline, pada periode 2011-2015, yang didaratkan di Cilacap, untuk kelompok hiu sekitar 5%, dan ikan kurang dari 1%.

Persentase rata-rata, dari komposisi hasil tangkapan jaring insang tuna, pada periode 2011-2015, untuk kelompok hiu dan pari adalah sama, yaitu sekitar 4%. Berdasarkan data pendaratan ikan armada rawai tuna, yang berangkat dari dan bongkar muatan di PPS Cilacap, dalam kurun 2011-2015, serta didukung dengan model konsumsi bahan bakar mesin induk, dan mesin bantu, yang diperoleh dengan pengukuran konsumsi BBM secara insitu, menunjukan bahwa tren hasil tangkapan per kapal meningkat.

Sedangkan, tren intensitas pemakaian bahan bakar (fuel used intensity – FUI) menurun. FUI Tahun 2011 sebesar 11,4 ton BBM/ton, total hasil tangkapan pada Tahun 2015 menjadi 7,3 atau rerata penurunan sebesar 0,78/tahun.

Dengan memperhatikan fluktuasi komposisi target hasil tangkapan (yellow fin, big eye, albacore, southern blue fin), terhadap total tangkapan, dalam kurun waktu yang sama, FUI menurun 0,94/tahun; dari 14,4 menjadi 11,6 ton BBM/ton target tangkapan. Tren tersebut sejalan, dengan penelitian-penelitian diberbagai usaha penangkapan longline tuna, di perairan Samudera Pasifik, Atlantik, dan Samudera Hindia.

Intensitas Pemakaian

Namun, besarannya intensitas pemakaian bahan bakar Nasional lebih tinggi, dari perairan dunia lainnya. Hal tersebut dapat terjadi, karena perbedaan kondisi sumberdaya ikan, jarak fishing ground, kondisi teknis kapal, dan ketrampilan nakhoda, serta anak buah kapal.

Tren perubahan tersebut terjadi, karena tren lama hari layar yang semakin pendek, dan jumlah trip kapal per tahun meningkat, sedangkan tren besar tenaga mesin induk kapal dominan, yang beroperasi tidak berubah. Hal tersebut menyebabkan, penurunan tren jejak karbon.

Analisa emisi mesin induk, dan mesin bantu, dengan menggunakan model konsumsi bahan bakar yang telah dikembangkan, dan menggunakan standar faktor emisi, berdasarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2006, serta global warming potential (GWP), berdasarkan IPCC Fifth Assessment Report (AR5), dan tanpa memperhitungkan emisi akibat kebocoran refrigerant R22, yang digunakan pada sistem pendingin ruang muat kapal.

Didapatkan kenaikan rerata jejak karbon armada rawai tuna sebesar 2,7 ton  CO2e /ton, total tangkapan/tahun; yaitu dari 5,97 ton CO2e/ton, total tangkapan pada Tahun 2011, menjadi 14,4 ton CO2e/ton, pada tahun 2015.

Menghitung Target

Dengan hanya memperhitungkan target spesies (albacore, bluefin dan yellow fin tuna), sebagai hasil tangkapan, jejak karbon tersebut naik dari 7,5 CO2e/ton. Target tangkapan pada Tahun 2011 menjadi 22,9 pada Tahun 2015.

Data referensi jejak karbon armada longline di Asia, didapatkan 6,6 – 8,9 ton CO2e/ton target tangkapan. Bahkan dibandingkan dengan armada huhate yang beroperasi di Sorong, Bitung, Kendari, Ambon, dan Larantuka yang beroperasi Tahun 2015, dengan jejak karbon armada tersebut didapatkan 0,3-0,9 ton CO2e/ton tangkapan.

Secara ekonomi, tren porsi biaya bahan bakar, terhadap harga total hasil hasil tangkapan meningkat. Hal tersebut dapat diakibatkan, adanya fluktuasi komposisi target tangkapan, terhadap hasil tangkapan yang sangat berfluktuasi, dan harga persatuan berat ikan relatif stabil.

Berdasarkan tahap operasi, konsumsi bahan bakar terbesar armada rawai tuna, adalah terjadi pada tahap cruise yang didefinisikan, sebagai tahap operasi dari pelabuhan menuju daerah penangkapan, pergerakan dari daerah penangkapan, ke daerah penangkapan lainnya, dan perjalanan kembali dari daerah penangkapan, kembali ke pelabuhan. Sedangkan pada armada huhate di Indonesia Timur, konsumsi bahan bakar terbesar terjadi pada tahap operasi kapal, dari daerah penangkapan, ke bagan tempat mengambil umpan hidup.

Baca juga Komoditas Rumput Laut Nasional

baner murah berpotensi
Penulis: 
author
Orang yang sederhana, ramah dan pantang menyerah. Berpengalaman kerja sebagai wartawan dan penulis sejak tahun 1999. Anda bisa menghubungi saya melalui halaman kontak website ini.

Posting Terkait

baner murah berpotensi