Para Pengusaha yang Berbasis Syariah

903 views
baner murah berpotensi

Sahabat Potensi. Pertama kalinya, Group Equator Entreprenuer (GEE), mengadakan pertemuan akbar, di Bale Panjang, Taman Mini Indonesia Indah. Silaturahmi Akbar GEE Indonesia I (SAGI), mengambil tema “UMKM Repositioning : Unggul Pasar Nasional dan Tembus Pasar Internasional.” Member GEE Indonesia, adalah para pengusaha, yang hampir semuanya UMKM berbasis syariah, ataupun sudah naik level, dan yang akan merintis menjadi wirausaha.

GEE sendiri adalah, pusat berkumpulnya pewirausaha berbasis syariah di nusantara. Sedangkan misi GEE adalah, menumbuhkan pewirausaha muslim non riba, dan membantu sinergi usaha para membernya, sehingga produk/usahanya, agar dapat berkembang, serta menjadikan produk/usaha mereka menjadi banyak digunakan oleh masyarakat nasional, dan tidak menutup kemungkinan masuk ke pasar internasional.

BNI Dukung UMKM Berbasis Syariah

Berbasis Syariah

Berbasis Syariah

BNI Syariah menyambut, dan mendukung itikad baik dari para member GEE Indonesia, yang berkomitmen menggunakan sistem keuangan berbasis syariah. Sejalan dengan core bisnis BNI Syariah, yang menyediakan layanan perbankan sesuai prinsip syariah. BNI Syariah mendukung UMKM, tidak lepas dari rencana pemerintah untuk meningkatkan UMKM di Indonesia, yang terbukti dalam lima tahun terakhir, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto mampu meningkat sebesar 60,34%.

Alhamdulillah, BNI Syariah berkomitmen mendukung kemajuan UMKM di Indonesia, salah satunya dengan mendukung komunitas GEE ini. Kami meyakini potensi UMKM di Indonesia, saat ini masih cukup besar, dan masih banyak yang belum mendapat sentuhan dari lembaga perbankan, khususnya perbankan syariah.

Sejalan dengan Hasanah Lifestyle Banking yang diusung, BNI Syariah berusaha memfasilitasi para pegiat UMKM ini, untuk berhijrah menggunakan sistem keuangan yang ber-Hasanah, dengan menyediakan produk dana, dan pembiayaan berbasis syariah.

BNI Syariah, juga berusaha menjadi partner bisnis para UMKM ini, dalam bentuk pendampingan dan coaching clinic, untuk pembukuan keuangan, dan pengelolaan usaha, sehingga para pegiat UMKM ini, dapat bank-able, agar dapat lebih maju, dan meningkatkan perekonomian Indonesia” Ujar Imam T. Saptono. Selaku Direktur Utama BNI Syariah

Kinerja BNI Syariah

BNI Syariah melewati triwulan ketiga di tahun 2016 dengan cukup baik. Walaupun tahun ini ekonomi masih belum menunjukan perbaikan yang cukup berarti, karena masih dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat.” kata Imam T. Saptono, yang menjelaskan, bahwa laba bersih triwulan ketiga tahun 2016 tercapai sebesar Rp 215,23 Miliar, atau naik sebesar 37,42% dibanding tahun sebelumnya September 2015 sebesar Rp 156,62 Miliar. Pertumbuhan laba tersebut, pada satu sisi, disokong oleh ekspansi pembiayaan yang terjaga kualitasnya. Di sisi lain, hal ini dikontribusikan oleh komposisi rasio dana murah serta efisiensi operasional yang juga terus membaik.

Pertumbuhan Aset

Dengan tetap menjunjung semangat berHasanah di tahun 2016, BNI Syariah bersyukur kinerja triwulan ketiga pada sisi neraca juga berjalan cukup optimal. Sebagaimana terlihat pada pertumbuhan aset Year on Year (YoY) naik sebesar 17,88% dari Rp 22,75 Triliun pada September tahun lalu menjadi sebesar Rp 26,82 Triliun. Pertumbuhan aset ini didorong oleh pertumbuhan pada pembiayaan sebesar 15,09% dan dana sebesar 20,26% terhadap posisi tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Pembiayaan pada September 2015 sebesar Rp 16,97 Triliun berhasil tumbuh menjadi Rp 19,53 Triliun pada September tahun ini. Pertumbuhan ini dilakukan dengan penjagaan terhadap kualitas pembiayaan sehingga NPF triwulan ketiga 2016 ini terjaga di level 3,03%, angka ini di bawah rata-rata industri perbankan syariah. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga yang pada September tahun lalu sebesar Rp 18,93 Triliun meningkat menjadi Rp 22,77 Triliun pada September 2016, dengan rasio dana murah (CASA) sebesar 47,42% naik dari 43,78% di tahun sebelumnya.

Dari total pembiayaan sebesar Rp 19,53 Triliun tersebut, sebagian besar merupakan pembiayaan konsumer yaitu 53,46%, disusul pembiayaan ritel produktif/SME sebesar 22,55%, pembiayaan komersial sebesar 16,20%, pembiayaan mikro sebesar 5,85%, dan kartu pembiayaan Hasanah Card 1,93%. Untuk pembiayaan konsumer, maka sebagian besar portofolio merupakan BNI Griya iB Hasanah, yakni sebesar 85,51%.

Pertumbuhan laba triwulan ketiga ini juga disumbang dari upaya mempertahankan efisiensi yang dilaksanakan di segenap bidang. Hal ini tampak dari komposisi BOPO yang relatif turun, dari 91,60% pada September tahun 2015, menjadi 86,28 % pada September 2016.

Baca juga Permodalan Bagi Nelayan

baner murah berpotensi
Penulis: 
author
Orang yang sederhana, ramah dan pantang menyerah. Berpengalaman kerja sebagai wartawan dan penulis sejak tahun 1999. Anda bisa menghubungi saya melalui halaman kontak website ini.

Posting Terkait

baner murah berpotensi