Mewujudkan Agribisnis Berbasis Teknologi

758 views
baner murah berpotensi

Sahabat Potensi, untuk mewujudkan visi pembangunan Indonesia dalam periode pemerintahan 2014 – 2019. Pemerintah berusaha untuk mewujudkan agribisnis berbasis teknologi dengan mengusung tema “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong ”. Penjabaran program untuk tercapainya visi dituangkan dalam 9 Agenda Prioritas atau disebut dengan Nawacita, yang salah satunya adalah “Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar Internasional ”, yang antara lain dijabarkan dalam program : Membangun Sejumlah Scince Park (Taman Sains) dan Techno Park (Taman Teknologi).

Mewujudkan Agribisnis Berbasis Teknologi

Mewujudkan Agribisnis Berbasis Teknologi

Pemerintah melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional mengagendakan untuk membangun Taman Sains (TS) di 34 provinsi dan Taman Teknologi (TT) di 100 kabupaten dalam waktu 5 tahun yang dituangkan dalam program quick win. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Litbang Pertanian mendapat tugas untuk membangun 5 (lima) Taman Sains Pertanian (TSP) di area Kebun Percobaan milik Badan Litbang dan 16 Taman Teknologi Pertanian (TTP) di tingkat kabupaten/kota.

Pada tahun 2015 Provinsi Kalimantan Tengah termasuk dalam Renstra Kementerian Pertanian yang mendapatkan lokasi pembangunan Taman Teknologi Pertanian, yaitu di Desa Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya. TTP Banturung dikoordinasikan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah dan didukung oleh Pemerintah Kota Palangka Raya dalam bentuk menyediakan lahan yang nantinya dipergunakan untuk bangunan fisik dan lahan untuk percontohan budidaya. Keterlibatan Pemda Kota Palangka Raya sangat dibutuhkan karena pada tahun keempat seluruh aset dan kegiatan TTP Banturung akan diserahkan ke manajemen pemda.

Pembagian Kegiatan Mewujudkan agribisnis

Kegiatan mewujudkan agribisnis dalam TTP terbagi atas tiga bagian besar yaitu :

(i) Site Plan, dimulai dengan penentuan lokasi yang lahannya dimiliki oleh Pemda dan lokasi yang terpilih adalah Desa Banturung di Kota Palangkaraya. Untuk mengetahui peluang keberhasilan pelaksanaan TPP dipergunakan analisa SWOT yang hasil analisisnya dapat dilihat pada tabel 1, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan komoditas melalui kegiatan Baseline dengan hasil komoditas terpilih adalah : cabe, bawang merah, tomat, semangka (hortikultura) ; lele, patin (perikanan) dan sapi (peternakan).

(ii) Business Plan,  dilakukan dengan survay tata niaga dan industri komoditi yang sudah terpilih. Hasilnya ada kesepakatan dengan pengusaha makanan hasil olahan dari bahan baku lele.

(iii) Action Plan, penentuan rencana dan jadwal kegiatan selama tiga tahun. Tahun keempat seluruh kegiatan dan bangunan diserahkan ke pemda. Pada tahun pertama di area TTP, selain lahan pemberdayaan untuk demplot komoditi terpilih, juga sudah terbangun kantor, balai pertemuan, kandang komunal beserta sapinya dan ruangan beserta alat-alat pasca panen yang akan mengolah produk turunan terpilih (nilai tambah).

 

Tabel 1.   Faktor Keberhasilan Pembangunan TTP Banturung

INTERNAL

  1. Sentra pengembangan hortikultura, perikanan, dan perkebunan.
  2. Kemampuan SDM petani dalam aspek budidaya memadai
  3. Ketersediaan bahan baku untuk industri olahan
  4. Sarana budidaya memadai
  5. Lokasi strategis dan daerah wisata
  6. Ketersediaan limbah pertanian cukup

EKSTERNAL

Opportunities (peluang)

  1. Kebijakan perluasan lahan pertanian
  2. Jaringan kerjasama pemerintah daerah
  3. Permintaan pasar terhadap hasil pertanian cukup besar
  4. Pembangunan infrastruktur
  5. Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan pertanian
  6. Kawasan pertumbuhan ekonomi baru

Weaknesses (kelemahan)

  1. Kekompakan kelompok tani masih rendah
  2. Kemampuan SDM untuk pengolahan hasil pertanian terbatas
  3. Sarana pengolahan belum ada
  4. Pemasaran hasil belum ditangani dengan baik
  5. Kelembagaan agribisnis masih terbatas
  6. Alih fungsi lahan

Threats (ancaman)

  1. Perubahan iklim
  2. Intervensi tengkulak kuat
  3. Aplikasi pupuk kimia dan pestisida tinggi
  4. Hama penyakit tanaman tinggi
  5. Adanya produk pesaing dari luar
  6. Harga komoditas pertanian tidak stabil

Secara garis besar petani yang ikut kegiatan TTP nantinya diajarkan bagaimana menanam cabe merah, bawang merah, semangka dan tomat, serta bagaimana metode penggemukan/pemeliharaan ikan lele dan sapi, dari narasumber tim teknis Litbang Kementerian Pertanian.

Semua teknologi yang dipergunakan untuk menanam dan memelihara diperoleh dari hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh Litbang Kementerian Pertanian. Penanaman dan pemeliharaan sudah dilakukan di lahan percontohan yang sudah disediakan di area TTP Banturung.

Hasil produksi penanaman dan pemeliharaan/penggemukan ternak nantinya  diolah menjadi produk yang siap dikonsumsi masyarakat. Pada tahun pertama sudah diperagakan dan dilatih bagaimana mengolah pasta dan saos yang berasal dari tomat, serta membuat biji kering cabe merah dan proses penyimpannya. Selain itu beberapa alat pasca panen komoditas terpilih sudah ada di area TTP Banturung.

Dengan adanya TTP Banturung diharapkan petani tidak lagi menjual hasil produksi pertanian sebagai bahan baku, tetapi petani menjual produk pertanian dalam bentuk produk yang siap dikonsumsi. Produk pertanian yang dihasilkan tersebut dibuat melalui teknologi budidaya, teknologi pasca panen dan teknologi pengemasan yang sudah dirilis oleh Litbang Kementerian Pertanian.

Baca juga Mempertahankan Sentra Produsen Kedelai

baner murah berpotensi
author
Peneliti di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian di Kementerian Pertanian, sejak tahun 1995. Keahlian dan minat yang diteliti khususnya tentang : ekonomi pertanian, agribisnis, kelembagaan dan manajemen, anda bisa menghubungi saya melalui halaman kontak website ini

Posting Terkait

baner murah berpotensi