Nelayan Pantura Beralih dari Cantrang

703 views
baner murah berpotensi

Sahabat Potensi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) damping nelayan Pantura beralih dari cantrang /trawls ke arah alat tangkap ramah lingkungan.

Menjaga keberlanjutan (sustainability) sumberdaya ikan menjadi salah satu komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sebagai bentuk nyata komitmen tersebut, belum lama ini Menteri Kelautan dan Perikanan (Men KP) Susi Pudjiastuti mengeluarkan aturan pembatasan penggunaan alat penangkapan ikan cantrang/trawls.

Nelayan Beralih dari Cantrang

Nelayan Beralih dari Cantrang

Berdasarkan surat edaran nomor 72/MEN-KP/II/2016, mengenai pembatasan penggunaan alat penangkapan ikan cantrang di WPPNRI (Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia), nelayan wajib mengganti cantrang dengan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan demi keberlangsungan sumberdaya ikan.

Untuk itu KKP bertanggung jawab untuk mendampingi nelayan beralih dari penggunaan cantrang/trawls yang dapat merusak lingkungan. KKP dalam hal ini Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMP KP) bersama Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) pada 2017 memberikan pelatihan di 12 Kabupaten/Kota, di sembilan provinsi se-Indonesia.

Pelatihan pertama, akan diadakan selama 5 hari, terhitung dari 26-30 Januari 2017, di Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Tegal, kepada 90 nelayan Pantura yang berasal dari Kabupaten Pati, Rembang, dan Batang.

Beralih dari Cantrang

“Kami berharap nelayan bisa beralih dari cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan, demi keberlanjutan sumberdaya ikan untuk anak cucu kita,” ujar Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan (Puslat KP) Mulyoto pada pelatihan di BPPP Tegal.

Sambungnya, tak hanya memberikan pelatihan penggantian alat tangkap saja, KKP juga memberikan bantuan penggantian alat tangkap cantrang ke gillnet millennium kepada ratusan nelayan. “Ini komitmen KKP untuk mendampingi nelayan agar sepenuhnya bisa beralih dari cantrang, sehingga nantinya nelayan bisa sejahtera karena stok ikan di laut meningkat,” papar Mulyoto.

Walikota Tegal Siti Masitha pada kesempatan tersebut menyampaikan, “Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan harapan yang baru, agar nelayan dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya.” Lanjut wanita cantik ini mengutarakan, sebetulnya nelayan di Tegal tidak berkeberatan untuk mengganti alat tangkap cantrang, hanya saja tidak semua mendapat bantuan alat tangkap pengganti, sehingga mereka masih harus menyesuaikan dan mencari cara.

“Kami siap mendukung kebijakan KKP, dan nelayan Tegal juga tidak berkeberatan mengganti alat tangkap karena ini juga untuk kebaikan mereka nantinya, untuk menjaga kelestarian ikan, hanya memang memerlukan waktu dan penyesuaian untuk peralihan alat tangkap ini,” ucap Siti.

Nelayan Minta Solusi

Dimintai keterangan saat pelatihan, Supani nelayan asal Batang, Jawa Tengah megatakan, “Memang sudah dua tahun terakhir tangkapan kami menurun, mungkin karena penggunaan cantrang, kami mengerti maksud pemerintah untuk mengganti alat tangkap, agar ikannya banyak, karena itu kami mau mengganti alat tangkap yang lebih ramah lingkungan”

Nelayan Pantura berharap dengan pelatihan ini bisa diberikan solusi terkait penggantian alat tangkap cantrang, sehingga pengoperasian alat tangkap baru yang lebih ramah lingkungan tidak menurunkan pendapatan mereka. “Kami bersyukur diberi pelatihan dan juga bantuan alat tangkap.

Kalau di Batang, Tegal dan sekitarnya ada namanya jaring rakus itu harganya lebih murah, dan saya pikir bisa jadi alternatif pengganti untuk cantrang selain gillnet millennium yang diberikan pemerintah,” kata Supani menjelaskan.

Pelatihan Pendampingan

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPPP Tegal, Ahmad Subijakto menyampaikan, “Tahun ini, kami targetkan untuk pemberian pelatihan pendampingan, penggantian alat penangkapan ikan, untuk 570 nelayan, di wilayah kerja BPPP Tegal, yang akan dilaksanakan berkala, di beberapa tempat, kita awali dari Tegal,” ujar Ahmad Subijakto yang akrab disapa Totok.

Totok berharap, nantinya nelayan yang sudah dilatih, dapat meneruskan ilmu yang diberikan, kepada nelayan lainnya. “Kami tidak mungkin melatih semua nelayan, yang jumlahnya sangat banyak, karena itu kami harapkan, mereka bisa meneruskan ke nelayan lainnya, yang kita namakan dengan konsep training of trainer. Jadi misalnya kita melatih 570 orang, kalau satu orang bisa mengajarkan pada 10 orang di daerahnya, maka total jadi 5.700 orang yang turut terbantu,” terang Totok.

Launching

Salah satu bentuk inovasi yang dibuat BPPP Tegal yakni, membuat kincir hemat energi untuk membantu petambak meminimalisir cost produksi udang. Selain itu BPPP Tegal juga membuat sistem pelayanan online Basic Safety Training (BST) untuk mempermudah pendaftaran dan pengurusan BST yang diperlukan untuk calon pekerja kapal atau pelaut. “BPPP Tegal selalu berusaha melahirkan inovasi baru untuk membantu masyarakat salah satunya ini kami buat kincir hemat energi dan pelayanan online BST,” tutur Totok.

Mengambil momen pembukaan pelatihan pendampingan penggantian alat penangkapan ikan, pada kegiatan ini juga melakukan launching Henkita Hemat Enegi Kincir Tambak) dan Pelayanan online BST. Launching dilakukan Walikota Tegal seraya membuka pelatihan. “Saya berharap dengan adanya inovasi ini, petambak dan juga lulusan sekolah perikanan yang ingin melakukan sertifikasi BST akan terbantu,” ujar Siti.

Baca Juga Rumput Laut Nasional

baner murah berpotensi
Penulis: 
author
Orang yang sederhana, ramah dan pantang menyerah. Berpengalaman kerja sebagai wartawan dan penulis sejak tahun 1999. Anda bisa menghubungi saya melalui halaman kontak website ini.

Posting Terkait

baner murah berpotensi